Breaking News:

Hari Pahlawan

Veteran dari Riau Ini Pernah Berjuang Bersama Yos Sudarso dalam Pembebasan Irian Barat

Seorang pejuang Indonesia dari Riau yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia Provinsi Riau pernah berjuang bersama Yos Sudarso

Penulis: Ikhwanul Rubby | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Ikhwanul Rubby
Syamsul Djafar dan Yas, Legiun Veteran Republik Indonesia Provinsi Riau 

Veteran dari Riau Ini Pernah Berjuang Bersama Yos Sudarso dalam Pembebasan Irian Barat

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Ikhwanul Rubby

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Seorang pejuang Indonesia dari Riau yang tergabung dalam Legiun Veteran Republik Indonesia Provinsi Riau pernah berjuang bersama Laksamana Madya TNI Yosaphat Soedarso atau dikenal dengan nama Yos Sudarso.

Beliau adalah Syamsul Djafar, dan beliau berjuang bersama Yos Sudarso saat Operasi Trikora dalam pembebasan Irian Barat.

Baca: Jadwal Pertandingan Liga Spanyol 10 November 2018, Saling Curi Poin di Papan Tengah

Baca: Haru, Nenek Khadijah Meneteskan Air Mata Kedatangan Tim Jumat Barokah Polresta Pekanbaru

Seorang pejuang Indonesia dari Riau lainnya adalah Yas, beliau bernah berjuang dalam operasi Dwikora yang kerap dikenal dengan nama aksi Ganyang Malaysia di daratan Riau.

Sudah 73 tahun lamanya negara Indonesia merdeka, bukan suatu hal yang mudah bagi bangsa besar ini untuk meraihnya dari tangan penjajah.

Tak hanya memperjuangkan kemerdekaan, diawal lahirnya negara ini banyak juga tantangan yang mesti dihadapi oleh bangsa ini untuk mempertahankan apa yang telah diraih.

Untuk bisa mencapai umur ke 73 tahun ini terdapat banyak para pejuang yang secara heroik berkorban demi untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan tersebut.

Tak sedikit para pejuang yang telah gugur demi meraih serta mempertahankan hak masyarakat untuk merdeka.

Mengenang perjuangan tersebut, setiap tanggal 10 November bangsa ini memperingati jasa para pejuang yang telah banyak berkorban bagi negara melalui peringatan Hari Pahlawan Nasional.

Ini sebagai wujud dari ungkapan bapak pendiri bangsa Ir Soekarnao yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya.

Baca: Hasil dan Klasemen Liga 2 2018 Grup A Babak 8 Besar, Semen Padang Geser Posisi PS Mojokerto

Baca: HASIL AKHIR Aceh United Vs Semen Padang Babak 8 Besar Liga 2, Kabau Sirah Bawa 3 Poin

Hari ini menjadi hari bagi bangsa besar, bangsa Indonesia memperingati dan mengenang aksi heroik para pejuangnya.

Banyak aksi heroik yang bisa dijadikan teladan bagi para generasi penerus bangsa.

Beberapa dari pejuang yang terlibat dalam usaha perebutan kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan masih hidup hingga saat ini.

Salah satu pejuang yang terlibat dalam aksi mempertahankan dan membela kemerdekaan yakni H Syamsul Djafar SH yang merupakan veteran dari angkatan Polisi Militer.

Syamsul Djafar, Veteran Polisi Militer
Syamsul Djafar, Veteran Polisi Militer (Tribun Pekanbaru/Ikhwanul Rubby)

Pria ini kini juga jadi Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia Provinsi Riau.

Pria paruh baya ini pernah ikut berjuang dalam operasi Dwikora, Trikora dan perebutan Timor Timur yang dikenal dengan nama operasi Seroja.

Saat operasi Trikora itu dirinya sempat berlayar bersama Jenderal Yos Sudarso dalam usaha membebaskan Irian Barat.

Sedangkan di operasi Dwikora dirinya sempat menghadapi para tentara Inggris yang ingin mendirikan negara boneka di Pulau Borneo.

Saat berbincang dengan Tribun Pekanbaru, Sabtu (10/11) mengatakan saat perjuangan di aksi perebutan Timor Timur pasukannya sempat menghadapi masa genting yang hampir merenggut nyawanya.

Baca: HASIL AKHIR Aceh United Vs Semen Padang Babak 8 Besar Liga 2, Kabau Sirah Bawa 3 Poin

Baca: Nekat Larikan Sepeda Motor yang Dipinjamnya di Pekanbaru, Pria Ini Ditangkap Polisi di Sumbar

"Saat perang memperebutkan Timor Timur tahun 70-an pasukan yang didalamnya ada saya sempat terkepung pasukan musuh yang berjumlah ratusan orang sementara pasukannya hanya ada 32 orang yang saat itu menjalankan misi menyelamatkan 30 warga yang disandera penjajah di bukit Erame yang terletak di daerah antara mobise dan manatuto Timor Timur. Untung saja saat ini pasukan lengkap dan berhasil mendapatkan bantuan dari udara untuk melumpuhkan musuh," ceritanya.

Ia bercerita dalam kondisi perang tersebut pasukan tempat dirinya bertugas menjadi angkatan yang bertugas mengintrograsi para tawanan perang dan mengayomi para pasukan yang terluka dan terkena ganguan jiwa di medan perang.

"Bertugas sebagai Polisi Militer sangat menguras emosi serta air mata karena melihat banyak pasukan yang terganggu jiwanya karena kurang siap menghadapi tekanan dalam peperangan," ucapnya.

Syamsul Djafar yang saat ini sudah mempunyai enam cucu tersebut mengatakan ikut menjadi tentara yang berjuang karena panggilan negara.

"Dahulu negara Indonesia sempat memberlakukan aturan wajib militer bagi para generasi mudanya. Saya termasuk yang mengikuti aturan tersebut," katanya.

Menurutnya wajib militer tersebut hanya dijalankan selama 5 tahun saja. Namun karena semangatnya, dirinya terus ikut berjuang dan bergabung dengan pasukan.

Ia mengaku saat ini kondisi kehidupan sehari-hari sudah mencukupi untuk hidup. "Tidak kaya tapi cukup untuk sekedar menjalankan masa tua," ucapnya.

Baca: VIDEO: Live Streaming Indosiar Persebaya vs PSM Makassar Liga 1 2018 Pekan 30

Baca: Makam Pendiri Pekanbaru Akan Direnovasi, Target Menjadi Tujuan Wisata Religi

Ia mengaku bersyukur terhadap hidup yang dijalankannya saat ini, kemerdekaan negara hingga sampai umur 73 tahun merupakan sebuah anugerah. "Dengan saya masih hidup hingga saat ini menjadi amanah untuk terus bisa menularkan jiwa kepahlawanan kepada para generasi muda," tuturnya.

Melihat generasi muda saat ini pria berumur 77 tahun ini mengaku miris dan sedih karena satu bangsa terpecah belah akibat kabar-kabar tidak benar yang beredar.

"Kita dahulu berjuang mati-matian membela serta mempertahankan kemerdekaan yang susah payah didapat sementara para generasi muda saat ini malah saling menghujat sesama bangsa," ucapnya.

Ia mengatakan implementasi jiwa kepahlawanan yang rela berkorban, jujur, sopan santun sudah semakin hilang di jiwa para generasi muda.

Dirinya berharap semangat kepahlawanan jangan hanya sekedar terucap di bibir saja tetapi juga dapat di implementasikan dalam rangka membangun bangsa ini.

Kisah heroik juga diceritakan Yas yang berjuang bersama angkatan Arhanudse 13 dalam operasi Dwikora yang kerap dikenal dengan nama aksi Ganyang Malaysia di daratan Riau.

Yas, Veteran Tentara Arhanudse 13
Yas, Veteran Tentara Arhanudse 13 (Tribun Pekanbaru/Ikhwanul Rubby)

Baca: Video: Jadwal Liga Inggris Hari Ini Pekan 12, Leicester City Vs Burnley, Southampton Vs Watford

Baca: Bahas Pentingnya Mempertahankan Reputasi Disaat Krisis, RS Awal Bros Taja Seminar Kehumasan

Lelaki 75 tahun ini bercerita sempat menghadapi peristiwa perang di masa operasi G30S PKI dan Dwikora.

Ia bercerita saat operasi Dwikora dirinya pertama kali menginjakkan kaki di daratan Riau sekitar tahun 1965.

"Penugasan saya ke Riau setelah pendidikan di Surabaya cukup miris karena saat rombongan di lepas para pasukan sudah dikalungi bunga sebagai bentuk penghargaan jika nanti tewas di medan perang," katanya.

Ia megatakan misi pengiriman pasukannya ke daratan Riau merupakan misi yang diyakini tidak mungkin sukses.

Pesimistis itu didasari pada kalah jauhnya perlengkapan perang angkatan pada masa itu untuk menjalankan misi tersebut.

Selain itu pengalaman pasukan yang masih minim di medan perang dan belum menguasai cara penggunaan peralatan perang yang tersedia jadi alasan pesimistis tersebut.

"Pada saat itu pimpinan di Surabaya mengatakan pasukan yang ada sekali di gempur pasukan Malaysia yang didukung tentara Inggris dalam satu jam semua pasukan bisa mati semua," ceritanya.

Ia mengatakan saat dikirimkan ke medan perang di Riau dirinya belum tau sama sekali menggunakan senjata meriam.

"Hingga saat ini peristiwa Konfrontasi Indonesia dan Malaysia menjadi yang paling berkesan karena disaat itu tanpa bekal apapun dituntut untuk siap menghadapi peperangan. Ditengah kondisi yang minim tersebut syukurnya para pasukan bisa melewati pertempuran tersebut dengan kemenangan," ceritanya.

Selain itu pada saat itu zaman juga lagi susah karena di masa itu para tentara gajinya yang hanya Rp 30 di cicil pembayarannya selama 3 bulan.

"Saat masa itu memang kondisinya sangat miris, sampai pakaian yang sudah robek tidak terbeli lagi. Meski demikian semangat melawan musuh tetap menggebu-gebu, tiada satupun pasukan tersebut menyerah pada masa itu," tuturnya.

Ia bercerita bergabung di angkatan karena penunjukan dari pihak kecamatan dahulunya. "Walaupun ditunjuk para generasi muda zaman itu tiada yang mengeluh dan menolak. Kami semua generasi muda pada saat itu siap siaga untuk menjalankan tugas yang diperintahkan," ceritanya.

Baca: Kuasai Freeport & Chevron, Jokowi: Kok Enggak Ada Demo di Depan Istana?

Baca: Elevasi Waduk Koto Panjang Akhirnya Turun, Pintu Pelimpah Masih Dibuka

Yas berpesan kepada anak muda agar dapat mengikuti semangat para pejuang yang telah bersusah payah merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan.

Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan yang tepat jatuh pada 10 November 2018, pemerintah Provinsi Riau menggelar Upacara Hari Pahlawan ke 73 tahun di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Riau.

Kegiatan ini dihadiri segenap pegawai pemerintahan dilingkungan pemerintah Provinsi Riau dan juga para angkatan seperti Polisi, TNI AU, TNI AD dan juga para veteran pejuang.

Upacara Hari Pahlawan Nasional tersebut langsung di pimpin oleh Plt Gubernur Riau, Wan Thamrin Hasyim.

Dalam pidatonya di upacara tersebut Wan Thamrin Hasyim menyampaikan pesan para generasi muda seluruh jajaran yang turut serta dalam upacara tersebut.

Ia mengatakan menjadi seorang pahlawan untuk dirinya dan bangsa, bisa dilakukan melalui bidang-bidang yang dikuasainya.

"Para pemuda yang ada saat ini termasuk pahlawan seperti ketika ada pertandingan olahraga Asian Games, itu merupakan pahlawan," katanya.

Ia berpesan untuk para generasi penerus untuk terus bergerak dibidang masing-masing yang bisa dikuasai untuk membangun Indonesia ke depannya.

Selain upacara, dalam peringatan Hati Pahlawan Nasional ini juga dilakukan ziarah ke Taman Makam Pahlawan Kesuma Dharma.

Ditempat tersebut para rombongan melakukan upacara penghormatan dan tabur bunga di makam para pahlawan yang bersemayam ditempat tersebut. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved