Memutus Rantai Konflik Satwa Liar dengan Manusia di Bumi Lancang Kuning

Tewasnya gajah berusia 25 tahun ini akibat infeksi kaki kiri yang sebelumnya terkena jerat pada tahun 2014 silam.

Memutus Rantai Konflik Satwa Liar dengan Manusia di Bumi Lancang Kuning
Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Pasca ditemukan membusuk di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Senin (7/10/2019), bangkai gajah betina bernama Dita menjalani proses nekropsi. (Tribun Pekanbaru/Theo Rizky) 

“Kami mengagumi gajah karena mereka menunjukkan apa yang kami anggap sebagai sifat manusia terbaik: empati, kesadaran diri, dan kecerdasan sosial. Tetapi cara kita memperlakukan mereka, menunjukkan bahwa perilaku manusia adalah yang paling buruk,”Graydon Carter, Jurnalis Asal Kanada.

TRIBUNPEKANBARU.COM - Seekor gajah betina bernama Dita ditemukan tewas mengenaskan pada Oktober 2019 lalu di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Tewasnya gajah berusia 25 tahun ini akibat infeksi kaki kiri yang sebelumnya terkena jerat pada tahun 2014 silam.

Selama 5 tahun itu Dita kerap mendapat perawatan dan menanggung rasa sakit hingga akhirnya menyerah dan ditemukan tergeletak tak bernyawa di sekitar 100 meter dari kebun ubi warga.

Berdasarkan keterangan dokter BBKSDA Riau, Rini Deswita yang telah melakukan nekropsi atau bedah bangkai terhadap Gajah Dita, hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik kepada Gajah Dita serta tanda-tanda keracunan.

"Tapi kita menemukan adanya infeksi yang sudah menyebar ke seluruh tubuh melalui telapak kaki depan sebelah kiri. Dari kegiatan nekropsi itu sehingga dapat disimpulkan Gajah Dita mati karena peradangan di seluruh tubuh disebabkan oleh infeksi,”jelas Rini.

Kasus kematian gajah betina itu menambah deretan panjang catatan konflik satwa dengan manusia. Belasan bahkan puluhan kasus serupa kerap terjadi setiap tahunnya di kawasan Suaka Margasatwa Balai Raja.

Ironisnya, konflik ini terjadi akibat ulah manusia yang tak henti-hentinya mengeksplorasi hutan. Habitat mereka setiap tahunnya terus tergerus akibat perluasan lahan yang dialihfungsikan menjadi lahan pertanian.

Berdasarkan SK Menhut No 173 Tahun 1986 terdapat 18 ribu hektare penunjukan untuk wilayah SM Balai Raja, kemudian setelah ditetapkan, luasannya menjadi 15.343.95 hektare dengan SK Menhut No 3978 Tahun 2014.

Akan tetapi, hutan yang tersisa di SM Balai Raja saat ini hanya berkisar 200 hektare, atau dikenal dengan sebutan Hutan Talang, yang berada di kawasan SM Balai Raja dan konsesinya PT Chevron Pacific Indonesia.

Halaman
1234
Penulis: Firmauli Sihaloho
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved