Memutus Rantai Konflik Satwa Liar dengan Manusia di Bumi Lancang Kuning

Tewasnya gajah berusia 25 tahun ini akibat infeksi kaki kiri yang sebelumnya terkena jerat pada tahun 2014 silam.

Tribun Pekanbaru/Theo Rizky
Pasca ditemukan membusuk di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Balai Raja, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Senin (7/10/2019), bangkai gajah betina bernama Dita menjalani proses nekropsi. (Tribun Pekanbaru/Theo Rizky) 

Setelah memberikan peringatan dini kepada masyarakat dari pantauan patroli, kata Dia melanjutkan masyarakat sudah bersiap di kebun mereka untuk melakukan penggiringan.

Adapun program yang masih berlangsung hingga sekarang itu awalnya sempat mendapat penolakan dari masyarakat setempat. Mereka mengira bahwa yang melepaskan gajah di sana adalah RSF.

“Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan intensnya komunikasi yang kami bangun, lama kelamaan masyarakat bisa menerima keberadaan kami, meskipun sampai saat ini masih ada satu desa yang masih enggan menerima,”papar Dia kepada tribunpekanbaru.com, Sabtu (21/12/2019).

Rimba Satwa Foundation (RSF) menggelar kegiatan conservation goes to school di 2 sekolah berbeda di Giam Siak Kecil, Kamis (19/12/2019)
Rimba Satwa Foundation (RSF) menggelar kegiatan conservation goes to school di 2 sekolah berbeda di Giam Siak Kecil, Kamis (19/12/2019) (istimewa)

Disamping berguna bagi masyarakat, program Mitigasi Konflik ini juga diapresiasi berbagai pihak. Salah satunya ialah Zulhusni bersama RSF diganjar award dari Satu Indonesia (Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia) untuk bidang lingkungan wilayah provinsi Riau lewat program mitigasi konflik secara berturut-turut, pada tahun 2018 dan 2019.

Sementara untuk menjaga populasi Gajah, RSF mengenalkan program PLG Breeding atau pembangunan area untuk kandang breeding ( kawin) bagi gajah jinak yang ada di Pusat Latihan Gajah Sialang Rimbun dan PLG Minas.

“Tujuannya adalah agar tetap adanya kelahiran dan pertambahan populasi Gajah Sumatera, jika di alam liar habitat mereka semakin terancam setidaknya yang jinak masih bisa kita kembang biakkan,” terang Zulhusni.

Dijelaskannya, proses pembangunan PLG Breeding dimulai dari meminta izin kepada kepala BBKSDA Riau terlebih dahulu, pada 10 Desember 2019 dan memulai pengerjaannya pada 19 Desember 2019 lalu akan dilanjutkan di bulan Januari 2020 untuk PLG Minas.

“Program ini barangkali untuk gajah Balairaja tidak terlalu ada urgensinya, namun bagi pertambahan populasi kita berharap melalui program ini akan meningkatkan jumlah populasi Gajah Sumatera,”kata Dia.

Selain itu, guna meningkatkan kesadaran dan cinta terhadap alam beserta isinya, RSF memfasilitasi bagi masyarakat awam untuk melihat aktivitas gajah di alam liar yang didampingi oleh staff RSF.

Sedangkan untuk patroli, RSF tidak bisa menerima orang awam. Sebab, dibutuhkan ilmu dan pengetahuan tentang karakteristik dari satwa liar.

Halaman
1234
Penulis: Firmauli Sihaloho
Editor: M Iqbal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved