KISAH 19 Anak Yatim dan Piatu serta Miskin dan Duafa Tidur Beralas Tikar dan Kadang Direndam Banjir

Anak-anak di sini ada yang yatim, ada juga piatu. Usianya yang paling kecil 4 tahun, dan yang besar sudah masuk SMA. Bagaimanapun kami bersyukur

Penulis: Alex | Editor: Nolpitos Hendri
Tribun Pekanbaru/Alexander
KISAH 19 Anak Yatim dan Piatu serta Miskin dan Duafa Tidur Beralas Tikar dan Kadang Direndam Banjir 

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Sudah empat bulan Panti Asuhan Rahmat Nur Hidayah menyewa rumah kontrakan di Jalan Arifin Ahmad Pekanbaru.

Sebanyak 19 anak ditampung di sana dengan fasilitas sederhana dan seadanya, anak-anak menjalani kehidupan mereka di sana.

Anak yang tinggal di sana mulai dari usia 4 tahun.

Kemudian yang paling besar usianya 18 tahun.

Tidak begitu banyak fasilitas tersedia yang bisa mereka manfaatkan.

Apalagi ukuran rumah yang disewa tergolong sempit, karena kontrakan tersebut merupakan rumah petak.

Beruntungnya pemilik rumah meminjamkan salah satu rumah lagi, yang kebetulan belum terisi oleh penyewa lain.

KISAH 19 Anak Yatim dan Piatu serta Miskin dan Duafa Tidur Beralas Tikar dan Kadang Direndam Banjir. Foto: Ilustrasi anak tidur
KISAH 19 Anak Yatim dan Piatu serta Miskin dan Duafa Tidur Beralas Tikar dan Kadang Direndam Banjir. Foto: Ilustrasi anak tidur (foto/net)

Hanya beberapa meter dari kontrakan itu, di depannya terdapat tanah kosong yang akan dipersiapkan untuk pembangunan oleh pemiliknya.

Sementara, pengelola panti asuhan tersebut meminjam lahan itu untuk dibangun pondok kecil, yang dimanfaatkan sebagai mushalla untuk anak-anak sembahyang dan mengaji.

Anak-anak tidur tanpa ada tempat tidur.

Mereka tidur beralaskan tikar.

Di ruang yang tidak terlalu luas itu, mereka tidur beramai-ramai, namun tetap dipisah untuk anak laki-laki dan perempuan.

Jika sudah hujan lebat, maka kondisi di lokasi tersebut banjir, karena minimnya tempat pembuangan air di sana.

Walau tidak terlalu tinggi, namun hal tersebut tentu tidak bisa membuat mereka tidur pulas seperti orang lain.

Rangga, salah seorang anak panti asuhan Rahmat Nur Hidayah usia 6 tahun tampak tersenyum sumringah saat Tribun menyambangi panti asuhan yang berlokasi di Jalan Arifin Ahmad Gang Amal RT 002 RW 016 Kelurahan Tangkerang Tengah, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru.

KISAH 19 Anak Yatim dan Piatu serta Miskin dan Duafa Tidur Beralas Tikar dan Kadang Direndam Banjir. Foto: Ilustrasi tidur beralaskan kardus
KISAH 19 Anak Yatim dan Piatu serta Miskin dan Duafa Tidur Beralas Tikar dan Kadang Direndam Banjir. Foto: Ilustrasi tidur beralaskan kardus (Photobucket)

"Senang tinggal di sini banyak teman, ada pohon-pohon.

Bisa makan rame-rame.

Bisa belajar sama Abang dan kakak di sini," kata Rangga polos.

Ketua yayasan panti asuhan tersebut, Ibrahim Jacky mengatakan, ia dan anak-anak sebenarnya sudah cukup bersyukur bisa pindah ke tempat yang lebih baik di sana.

Sebelumnya mereka tinggal di kawasan Palas dan juga mengontrak rumah di sana.

Namun karena kurang kondusif, ia pun mencari tempat baru yang lebih baik.

Namun tetap saja masih banyak kekurangan yang dibutuhkan.

"Anak-anak di sini ada yang yatim, ada juga piatu.

Usianya yang paling kecil 4 tahun, dan yang besar sudah masuk SMA.

Bagaimanapun kami bersyukur tinggal di sini.

Tapi tetap masih banyak kekurangan yang dibutuhkan," kata Ibrahim kepada Tribun, Senin (10/8/2020).

Jika dihitung-hitung, kebutuhan dan biaya anak-anak setiap bulannya diperkirakan Ibrahim adalah sekitar Rp 8 hingga Rp 9 juta, termasuk biaya sekolah dan belanja sehari-hari.

Namun jumlah yang diperoleh dikatakannya masih jauh dari harapan.

"Tapi Alhamdulillah untuk makan sehari-hari tercukupi.

Semua anak-anak tidak kekurangan makanan.

Tapi untuk biaya sekolah mereka yang masih kurang.

Apalagi ada yang masuk TK, SD, dan juga SMP.

Kemudian untuk transportasi mereka, karena kurang uangnya terpaksa, saya jemput ke sekolah bergantian dengan sepeda motor" tuturnya.

Pemilik rumah dikatakan Ibrahim sebenarnya tidak mempermasalahkan jika mereka membangun mushalla di area komplek rumah petak tersebut.

Hanya saja dikatakan Ibrahim pihaknya belum ada biaya sama sekali untuk membeli bahan-bahan untuk membangun mushalla tersebut.

"Kita boleh bangun mushalla di sini, tapi kami terkendala untuk biaya pembangunannya," tuturnya.

Panti asuhan tersebut juga tidak mendapatkan bantuan dari dinas sosial.

Dikatakan Ibrahim, syarat untuk bisa mendapatkan bantuan sosial tersebut salah satu syarat utamanya adalah anak harus berjumlah 35 anak.

Sementara, anak-anak di sana jumlahnya baru 19 orang.

"Sebenarnya cukup banyak juga yang minta ditampung di sini, tapi kita terbatas tempat.

Andai saja tempatnya lebih luas, tentu akan tampung.

Apalagi kalau anaknya banyak, kami bisa dapat bantuan dari dinas sosial," ulasnya.

Namun demikian, dikatakan Ibrahim, pihaknya tetap berupaya untuk terus berbenah dan akan menerima anak-anak baru nantinya.

"Selain yatim dan piatu, kami juga menerima anak miskin dan duafa.

Walau tidak tinggal di sini, bisa dijemput antar oleh orangtuanya," tuturnya.

Bagi dermawan yang ingin menyambangi langsung dan memberikan bantuan panti asuhan tersebut, bisa datang langsung ke lokasi tersebut, dengan contact person +62 821-7102-7833. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved