Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

UMKM Bengkalis

Denyut Nadi Migas dan Budaya Melayu Dalam Tiap Helai Batik Mandau

Motif kain Batik Mandau kaya dengan kenangan, termasuk motif pumping unit atau pompa angguk yang menjadi jejak sejarah Migas di Riau.

Penulis: Fernando | Editor: FebriHendra
tribunpekanbaru.com/fernando
Pengrajin Batik Mandau sedang melakukan gradasi warna pada permukaan batik di Galery Batik Mandau, Komplek Kantor Camat Mandau, Kabupaten Bengkalis. 

TRIBUNPEKANBARU.COM,PEKANBARU - Aktivitas eksplorasi minyak dan gas atau migas menjadi denyut nadi masyarakatcamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.

Bertahun-tahun urat nadi migas mengalir menjadi satu sumber penghidupan di kecamatan itu.

Gambaran pumping unit atau pompa angguk dalam area Duri Field PHR WK Rokan selalu terbayang dalam ingatan.

Pompa itu berada di sumur yang sudah berkontribusi untuk produksi minyak nasional sejak tahun 1951 silam.

Pompa inilah yang mengawali kisah ribuan sumur migas sehingga menjadi jantung energi nasional.

Mandau juga menjadi satu wilayah perlintasan satwa gajah sumatra. Binatang dengan ukuran besar itu juga akrab dengan masyarakat di kecamatan itu.

Aneka tumbuhan seperti nenas, durian hingga sawit juga dekat dalam keseharian masyarakat. Mereka terlukis dengan indah dalam motif kain Batik Mandau.

Begitu juga dengan aneka motif khas Melayu seperti pucuk rebung, kiambang, songket hingga kemojo.

Haslinda
Haslinda, satu pengrajin Batik Mandau mencanting motif batik di atas helai kain.

Semuanya menjadi inspirasi lahirnya aneka motif indah yang terekam dalam Batik Mandau sejak 2021 silam.

Denyut kehidupan masyarakat Mandau berpadu dengan aneka warna dan motif kain ini. Semua itu menambah keindahan kain batik khas dari Bumi Lancang Kuning.

Ada rekam jejak sejarah migas hingga budaya melayu terlukis di setiap helai Batik Mandau.

Satu Pengrajin Batik Mandau, Haslinda dengan teliti melukis motif pumping unit memakai canting di atas sehelai kain warna putih dalam Galery Batik Mandau.

Ia juga melukis beberapa motif batik dengan cairan lilin yang dijaga tetap panas di atas sebuah kompor kecil. Motif itu di antaranya bunga teratai hingga daun sirih.

Wanita 46 tahun ini dengan terampil melukis berbagai motif sampai mengisi bagian demi bagian kain putih. Ia melukis dengan canting itu dengan durasi berkisar 15 menit hingga 30 menit.

Ibu rumah tangga atau IRT ini mengaku butuh waktu belajar membatik hingga akhirnya bisa mahir menggunakan canting. Ia mengaku belajar membatik selama tiga bulan sampai bisa membatik seperti sekarang. Cara membatik dipelajarinya dengan berlatih di Solo, Blora sampai Kulon progo.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved