Jumat, 10 April 2026
Pemko Pekanbaru
Super Hub Pemko Pekanbaru

Citizen Journaslism

Ketika Penggali Kubur Menggali Kuburannya Sendiri

Terus bagaimana dengan alokasi anggaran tahun 2024 yang belum terbayarkan dan akan dibayarkan  pada tahun 2025 ini atau istilahnya “Tunda Bayar” ?

Editor: Nolpitos Hendri
Tribunpekanbaru.com/mayonal
Ir H Irving Kahar Arifin, ME. Mantan Birokrat Pemkab Siak ini mengkritisi masalah tunda bayar kegiatan pengadaan barang dan jasa di Pemkab Siak tahun 2024. Kali ini ia kembali mengkritisi masalah yang sama melalui sebuah tulisan berjudul "Ketika Penggali Kubur Menggali Kuburannya Sendiri". 

Ketika Penggali Kubur Menggali Kuburannya Sendiri

Citizen Journalism : Oleh Ir. H. Irving Kahar Arifin, ME

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Hujan begitu rapat turun kemarin sore. Udara terasa begitu sejuk. Setelah sehari sebelumnya panas matahari membakar bumi. Ngopi adalah pilihan tepat sebagai kawan melintasi hari. Dan seperti biasa, bermain jemari di layar smartphone menjadi pilihan berikutnya.

Saat membuka fitur agregator berita, melintas kisah fiksi penggali kubur. Mata saya langsung merespon. Rangsangan untuk segera membaca muncul seketika.

Dikisahkan, seorang penggali kubur paruh baya. Ia memendam hasrat untuk kaya raya, hidup senang, harta berlimpah serta punya kuasa. Hasrat itu meledak-ledak seperti dendam. Sebab, di masa kecil, ia dibelit kemiskinan. Lebih dari separuh umurnya, dijalani dengan berbagai bentuk kepahitan.

Menjadi penggali kubur sebenarnya bukanlah cita-cita. Jalan hidup membawanya berkenalan dengan seorang penggali kubur tua. Duda renta yang tak punya keluarga. Istrinya meninggal belasan tahun silam. Sementara, anak semata wayangnya, tewas dilindas mobil setahun setelah istrinya meninggal.

Lalu, ia berkenalan dengan pria paruh baya itu dan kemudian diangkat dan diperlakukan seperti sebagai anak. Bagi dia, uluran tangan dari orang tua tersebut adalah harapan. Sebab, pria paruh baya itu juga sebatang kara.

Hari-hari mereka menjalani hidup di kuburan. Menangani prosesi pemakaman. Dari memandikan, mengkafani hingga memakamkan. Orang tua itu mengajarkan, penggali kubur adalah pekerjaan mulia. Di saat orang hiruk pikuk dengan geliat dunia. Mereka bergerak dalam hening. Nyaris terabaikan. Meski prosesi penting perjalanan akhir manusia di dunia, ada di tangan mereka.

Penggali kubur tua itu mengajarkan, jangan pernah meminta bayaran atas jasa yang mereka berikan. "Tak elok, meminta biaya saat orang dirudung duka," katanya.

Dalam perjalanannya, orangtua itu kadang mendapat upah. Tapi acapkali pula hanya ucapan terima kasih. Bagi dia, itu tak penting. Ikhtiarnya berbuat baik sudah dijalankan. Membantu orang di saat dibalut duka. "Semoga itu menjadi pahala bagi kita," sebutnya.

Berselang tahun, orang tua itu menyusul istri dan anaknya. Ia wafat. Lubang kubur yang biasa ia gali, kini digali anak angkat untuk dirinya sendiri. 

Estafet pun beralih. Pekerjaan penggali kubur kini dijalankan sang anak angkat. Ia pewaris tunggal. Segala kepandaian prosesi pemakaman, kini dikuasainya dengan paripurna. 

Namun ia jumawa. Kepandaian itu membuatnya lupa hakikat pekerjaan penggali kubur. Keikhlasan disingkirkannya jauh-jauh. Bagi dia, penggali kubur adalah pekerjaan yang harus dihargai mahal. "Saya harus mendapat uang banyak dari pekerjaan ini,"sebut penggali kubur paruh baya dalam hati.

Suatu hari, ketika badai besar melanda desa, hujan terus mengguyur dan angin mengamuk seperti hendak merobohkan rumah-rumah. si penggali kubur duduk santai sambil menghitung uang hasil pekerjaannya.

Tiba-tiba, datang seseorang berjubah hitam ke rumahnya. Orang itu berkata dengan suara berat. “Ada mayat yang harus dikuburkan dan saat ini sudah menunggu di kuburan. Segera gali lubang kuburan dan kuburkan mayat tersebut. Ini ada sekantong emas untuk upahmu," katanya. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved