Inhu

WWF Sebut Konflik Gajah dan Manusia di Riau Tidak Bisa Ditiadakan, Ini Alasannya

Gajah ini secara prilaku biologisnya menjelajahi wilayah itu secara turun temurun namun kondisinya sudah berubah. Pada saat menjelajah itu dia bertemu

WWF Sebut Konflik Gajah dan Manusia di Riau Tidak Bisa Ditiadakan, Ini Alasannya
Tribun Pekanbaru/Bynton Simanungkalit
Kasatpol PP Inhu, Boby Rachmat mengunjungi gajah latih yang akan melakukan penggiringan terhadap enam ekor gajah liar di Kecamatan Peranap, Inhu. 

TRIBUNINHU.COM, RENGAT - Masyarakat di Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) beberapa waktu lalu sempat dibuat resah karena keberadaan empat ekor gajah liar di dekat wilayah permukiman mereka. Bahkan gajah-gajah itu merusak tanaman di kebun milik warga.

Kondisi ini menjadi perhatian, sehingga perlu dilakukan upaya untuk menghindari konflik gajah dan manusia.

Menurut WWF, konflik gajah dan manusia saat ini hanya bisa diminimalisir namun tidak bisa ditiadakan. Kondisi ini diakibatkan karena alam yang menjadi habitat gajah-gajah tersebut sudah sangat berkurang.

Staf komunikasi WWF Riau, Syamsidar kepada Tribuninhu.com mengungkapkan bahwa di Riau saat ini ada sembilan kantong gajah, yakni Mahato-Barumun, Rokan Hilir, Balai Raja, Giam Siak Kecil, Petapahan, Tesso Nilo Utara, Tesso Nilo Tenggara, Batang Ulak, dan Serangge.

Baca: Tiga Ekor Gajah Liar Masuki Pemukiman Warga di Peranap Inhu Riau, Sudah Berkeliaran Selama 4 Hari

Baca: Ukuran Badan dan Gading Gajah Latih Jadi Satu Faktor Keberhasilan Penggiringan Gajah

Baca: Pakai Cara Ini, Tim BKSDA Berhasil Giring Gajah Liar di Peranap Ingu Riau ke TNTN

Masing-masing kantong gajah terdapat sejumlah gajah. Di Mahato -Barumun terdapat tiga ekor gajah, Rokan Hilir terdapat satu ekor gajah, di Balai Raja terdapat lima ekor gajah, di Giam Siak Kecil terdapat 50 sampai 60 ekor gajah, di Petapahan terdapat 11 ekor gajah, di Tesso Nilo Utara terdapat 30-38 ekor gajah, di Tesso Nilo Tenggara terdapat 50 sampai 60 ekor gajah, di Batang Ulak terdapat satu ekor gajah.

"Kantong gajah Serangge dekat bukit tiga puluh hasil survey 2018 kita belum bisa perkirakan jumlah individu, namun tanda-tanda keberadaan gajah ditemukan," kata Syamsidar, Minggu (16/6/2019).

Menurut Syamsidar, gajah-gajah tersebut banyak melakukan perjalanan di luar kantong gajah karena dulu wilayah tersebut termasuk daerah jelajahan gajah. Salah satunya wilayab hutan Tesso Nilo yang dulunya sangat luas.

Baca: Kisah Petugas PLG Minas Menghalau Gajah Liar, Rela Jauh dari Keluarga dan Berlebaran di Kebun Sawit

Baca: Diangkut Pakai Truk 3 Jam & Alami Dehidrasi,2 Gajah Jinak Akhirnya Sukses Giring Kawanan Gajah Liar

Namun pada tahun 90an konsesi dan pembangunan membuat wilayah hutan Tesso Nilo jauh berkurang.

"Sementara di sisi lain, gajah ini secara prilaku biologisnya menjelajahi wilayah itu secara turun temurun namun kondisinya sudah berubah. Pada saat menjelajah itu dia bertemu dengan kondisi yang tak sama lagi," kata Syamsidar. Hal ini yang membuat timbulnya konflik.

Syamsidar berkata pemilik komsesi adalah pihak yang paling berperan aktif dalam upaya menghindari konflik dengan gajah maupun harimau.

Sebab menuruntya 75 persen gajah dan harimau hidup di areal konsesi bukan di hutan yang masih berstatus konservasi.

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama sejumlah organisasi termasuk WWF pada tahun 2012 pernah menyusun strategi rencana konservasi gajah sumatera. Rencana itu disusun sebagai langkah untuk meminimalisir konflik gajah.

Baca: Gajah Bernama Rahman dan Indro Masih Berupaya Menggiring Kawanan Gajah Liar Ke TNTN

Baca: WWF Sebut 75 Persen Habitat Gajah Liar di Riau Tergerus Berubah Fungsi Menjadi Lahan Konsensi

Salah satu upaya yang dilakukan dengan cara menunda masa panen apabila di salah satu areal konsesi tersebut terdapat gajah atau harimau. Sehingga konflik bisa dihindari.

Namun menurut Syamsidar upaya pengelolaan konflik yang terkandung dalam rencana strategi itu tidak berjalan dengan baik. "Harusnya semua pihak melaksanakannya, harapannya konflik gajah bisa diminimalisir," katanya. (Tribuninhu.com/Bynton Simanungkalit)

Penulis: Bynton Simanungkalit
Editor: CandraDani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved